Hitungan Mundur Menuju Kejayaan Nusantara: Hitungan Mundur Menuju Kepada Kejayaan Indonesia

Jumat, 04 Juli 2008

Hitungan Mundur Menuju Kepada Kejayaan Indonesia


Dalam perjalanan sejarah Indonesia banyak hal-hal yang terjadi mulai dari peperangan, bencana, kesengsaraan, dan kemakmuran, serta pergantian zaman. Sepanjang sejarah, Nusantara Indonesia telah mengalami berbagai macam pergantian zaman, dimana pada setiap pergantian zaman di negeri ini, selalu saja diawali atau ditandai dengan berbagai macam cobaan.
Mungkin kita semua tahu bahwa pada setiap masa pergantian itu selalu ada banyak cobaan, seperti masa pergantian kerajaan Sriwijaya ke Majapahit yang ditandai dengan pemberontakkan-pemberontakkan yang terjadi sampai pada akhirnya terjadi perang besar yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Sriwijaya.
Jika kita lihat lagi sejarah bangsa ini kita bisa tahu bahwa bangsa ini pernah menjadi bangsa yang berjaya didunia, yakni pada zaman kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya sampai ke negara india pada abad ke-7, lalu pada abad ke-14 yakni zaman keemasan dari kerajaan Majapahit. Bila kita lihat dari waktunya, Sriwijaya abad ke-7, lalu Majapahit abad ke-14, seharusnya masa-masa itu akan terulang lagi pada abad ke-21 sekarang ini. Tapi, mungkinkah itu semua?
Penulis telah menyebutkan bahwa, setiap terjadi pergantian zaman selalu ditandai dengan berbagai cobaan, apalagi bila pergantian tersebut akan membawa bangsa ini kepada kejayaan.
Saat ini kita telah merasakan berbagai macam cobaan dan bencana yang dating silih berganti, apakah ini semua suatu pertanda bahwa akan datang masa-masa kejayaan sebagaimana yang talah penulis sebutkan??? mari kita bahas bersama, dan kita juga akan melihat dan membahas sebuah ramalan yang termahsyur di Indonesia, yang dikenal dengan nama JANGKA JAYABAYA.
Dalam ramalan Prabu Jayabaya disebutkan bahwa Indonesia kelak akan dipimpin oleh beberapa orang Satria. Disebutkan ada tujuh satria yang akan muncul sebagai tokoh yang kelak akan memerintah atau memimpin Indonesia setelah zaman kerajaan berakhir, yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.
Dalam suatu artikel yang penulis kutip yang ditulis oleh Tri Budi Marhaen Dermawan memaparkan bahwa, banyak kalangan yang mencoba menafsirkan ke-tujuh Satria itu adalah sebagai berikut :

1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.

5. SATRIO HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong / dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.

Dari penjelasan tersebut diatas, kita pasti akan penasaran siapakah satria yang akan membawa Indonesia mencapai zaman keemasan, zaman kejayaan kembali negeri ini. Tapi sebelum kita mencapai zaman tersebut, kita akan mengalami banyak cobaan dan bencana yang harus dilewati. Seperti yang disebutkan oleh Prabu Jayabaya, yaitu:
Zaman KALABENDU.
Iki sing dadi tandane zaman kalabendu
1. Lindu ping pitu sedina
2. Lemah Lemah bengkah
3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara
4. Pagebluk rupa-rupa
5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati

Zaman kalabendu iku wiwit yen,
1. Wis ana kreta mlaku tanpa jaran
2. Tanah jawa kalungan wesi
3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang
4. Kali ilang kedunge
5. Pasar ilang kumandange
6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman
7. Jaran doyan sambel
8. Wong wadon menganggo lanang
Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.
1. Mulane akeh bapak lali anak
2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak
3. Sedulur pada cidro cinidro
4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane
5. Akeh wong lanang ora duwe bojo
6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone
7. Akeh ibu pada ngedol anake
8. Akeh wong wadon ngedol awake
9. Akeh wong ijol bojo
10. Akeh udan salah mangsa
11. Akeh prawan tuwa
12. Akeh randa ngalairake anak
13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake
14. Wong wodan ngalamar wong lanang
15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe
16. Akeh bocah kowar
17. Randa murah regane
18. Randa ajine mung sak sen loro
19. Prawan rong sen loro
20. Dudo pincang payu sangang wong

Zamane zaman edan
1. Wong wadon nunggang jaran
2. Wong lanang lungguh plengki
3. Wong bener tenger-tenger
4. Wong salah bungah-bungah
5. Wong apik ditampik-tampik
6. Wong bejat munggah pangkat
7. Akeh ndandhang diunekake kuntul
8. Wong salah dianggap bener
9. Wong lugu kebelenggu
10. Wong mulya dikunjara
11. Sing culika mulya, sing jujur kojur
12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang
13. Wong main akeh sing ndadi
14. Linak lija lingga lica, lali anak lali baja, lali tangga lali kanca
15. Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu
16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak
17. Ning mulih main kantonge kempes
18. Krungu bojo lan anak nangis ora di rewes
Abote kaya ngapa sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku. Amargo zaman iku bakal sirna lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamane kamulyan zamaning ratu adil


Terjemahannya kurang lebih begini :
Ini yang menjadi tanda zaman kehancuran
1. Gempa bumi 7 x sehari
2. Tanah pecah merekah
3. Manusia berguguran, banyak yang ditimpa sakit
4. Bencana bermacam-macam
5. Hanya sedikit yang sembuh kebanyakan meninggal

Zaman ini ditandai dengan
1. Sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda
2. Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin maksudnya Rel kereta kali ya Red)
3. Perahu berjalan di atas awan melayang layang
4. Sungai kehilangan danaunya
5. Pasar kehilangan keramaianya
6. Manusia menemukan jaman yang terbolak-balik
7. Kuda doyan makan sambal
8. Orang perempuan mempergunakan busana laki-laki
Zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia
1. Oleh sebab itu banyak bapak lupa sama anaknya
2. Banyak anak yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya
3. Sesama saudara saling berkelahi
4. Perempuan kehilangan rasa malunya, Laki-laki kehilangan rasa kejantanannya
5. Banyak Laki laki tidak punya istri
6. Banyak perempuan yang tidak setia pada suaminya
7. Banyak ibu yang menjual anaknya
8. Banyak perempuan yang menjual dirinya
9. Banyak orang yang tukar menukar pasangan
10. Sering terjadi hujan salah musim
11. Banyak Perawan Tua
12. Banyak janda yang melahirkan anak
13. Banyak bayi yang lahir tanpa bapak
14. Perempuan melamar laki-laki
15. Laki-laki merendahkan derajatnya sendiri
16. Banyak anak lahir di luar nikah
17. Janda murah harganya
18. Janda nilainya hanya satu sen untuk dua
19. Perawan nilainya dua sen untuk dua
20. Duda berharga 9 orang

Zamannya Zaman Gila/Sinting
1. Perempuan menunggang Kuda
2. Laki-laki berpangku tangan
3. Orang yang benar cuma bisa bengong
4. Orang yang melakukan kesalahan berpesta pora
5. Orang Baik di singkirkan
6. Orang Yang kelakuannya bejat malah naik pangkat
7. Banyak komentar yang tidak ada isinya
8. Orang salah diangap benar
9. Orang lugu dibelenggu
10. Orang mulia dipenjara
11. Yang salah mulia, yang jujur hancur
12. Pedagang banyak yang menyeleweng
13. Orang berjudi semakin menjadi
14. Lupa anak dan pasangan, lupa tetangga dan teman
15. Uang dan keringat hanya untuk berjudi
16. Kartu besar dibuka, tertawa terbahak-bahak
17. Tapi waktu pulang main kantongnya kosong
18. Denger anak istri nangis tidak digubris
Berat seperti apapun jangan sampai kalut (lebih tepatnya) Seberat apapun jangan sampai ikut larut dalam warna-warni zaman kalabendu Sebab zaman itu bakal sirna dan diganti dengan zaman Ratu adil, jaman kemuliaan, karena itu yang tegar, yang tabah, yang kokoh, Jangan melakukan hal bodoh. Tunggulah zaman kemuliaan zamannya Ratu adil.
Jika kita melihat dari ramalan tersebut, apa yang telah disebutkan itu telah terjadi dinegara kita saat ini. Hal ini juga bisa kita lihat dari ilustrasi-ilustrasi tanda-tanda zaman KALABENDU, seperti ilustrasi zaman Kalabendu yang dimulai dari tembang 28 s/d 44 pupuh 257 Serat Centhini jilid IV :
- Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.
Artinya: Para pemimpinnya berhati jail, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.
- Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.
Artinya : Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.
- Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.
Artinya : Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin ber-aneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.
- Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.
Artinya : Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.
- Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.
Artinya : Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.
- Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.
Artinya: Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram dihati.
- Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.
Artinya : Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.
- Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.
Artinya : Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.
- Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak cakrak.
Artinya : Para pemimpin mengatakan se-olah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.
- Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.
Artinya : Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan ber-beda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.
- Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.
Artinya : Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda2 yang tersembunyi dalam peristiwa ini. (kelihatanya ini adalah ungkapan hati pembuat tembang ini).
- Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.
Artinya : Berupaya tanpa pamrih.
- Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.
Artinya : Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan (peringatan dari R.Ng. Ranggawarsita).
- Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.
Artinya : Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.
- Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boyam keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.
Artinya : Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.
- Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.
Artinya : Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).
-Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.
Artinya : Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka. Kalau kita perhatikan ilustrasi zaman Kalbendu adalahsangat mirip dengan 'bebendu' atau 'kekalutan' yang sedang terjadi saat ini yang kelihatannya tidak satupun pemimpin yang mampu mengatasi (baik yang formal yang sedang mejalankan roda pemerintahan maupun pimpinan informal diluar pemerintahan bahkan pimpinan ABRI yang punya senjatapun tidak mampu mengatasi masalah bahkan cenderung seperti orang bingung / linglung yang se-mata-mata terpengaruh oleh perbawa zaman Kalabendu yang tidak mungkin bisa dihindari)
Bila kita melihat ilustrasi tersebut, kita akan tahu bahwa ilustrasi tersebut saat ini telah terjadi di negeri ini, apakah Negara kita telah memasuki zaman kalabendu seperti apa yang telah diramalkan Prabu Jayabaya? Dan apakah ini suatu pertanda bahwa kita akan segera memasuki masa-masa kejayaan Nusantara? Dimana yang disebutkan bahwa setelah melewati zaman kalabendu kita akan memasuki zaman yang disebut zaman KALASUBA.
Zaman KALASUBA.
Pada pupuh 258, dimulai suatu perubahan dari zaman Kaladuka ke zaman Kalasuba yang lebih baik seperti pada tembang 1 s/d 6 sebagai berikut :
- Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.
Artinya : Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.
- Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.
Artinya : Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama. (yang diterjemahkan banyak pihak sebagai 'satria piningit')
- Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.
Artnya: Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.
- Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
Artinya : Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (penulis tidak tahu apa maksudnya, perlu interpretasi tentang nama ini), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan terhadap Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah se-mata2 zikir, musuh semua bisa dikalahkan (suatu indikasi bahwa pemimpin yang akan muncul adalah seorang Muslim yang sangat taat beragama, yang semata-mata iman yang sangat tebal kepada Allah SWT yang membimbingnya dan menjadi kekuatannya)
- Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.
Artinya : Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara,dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima. (suatu indikasi bahwa kejujuran, kesederhanaan, dan tidak mau melebihi apa yang menjadi penghasilannya, tidak kurang tidak lebih menjadi ciri utama dari pemimpin yang baru. Dalam tembang ini sangat jelas dilukiskan kelemahan pemimipin adalah sikap berlebih-lebih-an yang pada posisi sebagai pimpinan cenderung tidak menerima apa yang secara murni diberikan oleh Negara sebagai penghasilannya sehingga menimbulkan banyak 'kreativitas' untuk mendapatkan 'tambahan' penghasilan yang sulit dikontrol batas-batas-nya yang merugikan rakyat banyak yang contoh nyatanya adalah situasi kehidupan para pimpinan/pejabat pemerintahan selama 32 tahun rezim Soeharto berkuasa dan juga sampai dengan saat ini).
- Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
Artinya : Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.
- Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.
Artinya: Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.
Bila benar kita telah memasuki zaman kalabendu artinya, kita hanya tinggal menunggu waktu dan berharap segera memasuki zaman dimana bangsa kita menjadi makmur, aman, damai, dan sejahtera dibawah pimpinan sang satria yang selama ini kita harapkan kedatangannya (Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu) atau yang sering disebut-sebut sebagai Satrio Piningit atau Ratu Adil atau dalam istilah lain Sultan Erucaraka.
Lalu adakah ciri khusus sang satria dan tanda-tanda kemunculannya? Untuk mengetahuinya kita akan melihat kepada suatu kitab kuno sebagai berikut:
Sinom Jayabaya
1.Lahir di bumi Mekah.
(lahir di bumi “Mekah” - maksudnya : seseorang itu lahir di keluarga yang sangat agamis)
2.Raja keturunan waliyullah.
(Raja keturunan Waliyullah - maksudnya : seseorang itu masih mempunyai garis keturunan orang suci dimasa lalu/ Sunan)
3.Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran.
(Letaknya dekat dengan gunung perahu, sebelah barat tempuran - maksudnya : seseorang itu tinggal bukan di Gunung Perahu tetap disuatu tempat “dekat” dengan gunung perahu ; Di Pulau Jawa ada 2 gunung Perahu (G. Perahu di Jawa Tengah & G. Tangkuban Perahu di Jawa Barat – dan secara persis letaknya di sebelah barat dari pertemuan sungai yang dekat gunung tersebut.)

Bait Ramalan Jayabaya
1.bersenjata trisula wedha
2.membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong
(Berpedoman pada Trisula Weda/ Tritunggal - kesimpulan : seseorang itu berpedoman / memegang perlambang Trisula Weda / bukan senjata trisula dalam arti yang sesungguhnya dan pedoman Trisula Weda ini tersamar didalam perlambang Sabdo Palon/ Manik Maya yang dipegang seseorang tsb, dimana arti : Manik = Inti, Maya = tersamar)
3.asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah timurnya bengawan
(Asalnya dari Kaki Gunung Lawu sebelaah timur dan sebelah Timur Bengawan - maksudnya : Seseorang itu berasal dari sebelah Timur G.Lawu (berasal dari Jawa Timur) dan dari sebelah Timur Bengawan (Sungai yang besar)- di Jawa Timur Sungai yang besar adalah sungai Brantas, jadi seseorang itu lahir di daerah sebelah timur sungai Brantas, misal : kota Malang, Mojokerto, Probolinggo. Lumajang, Banyuwangi, dll)
4.masih muda sudah dipanggil orang tua
(Maksudnya : seseorang itu masih muda tetapi mempunyai nama seperti orang tua / terlihat “didampingi” oleh para sesepuh pulau jawa)
5.turunnya air brajamusti pecah memercik
(turunnya air Brajamusti - maksudnya : seseorang itu telah menerima tetesan air suci pada suatu malam (Bathara Indra penguasan malam / bulan); malam dengan perlambang “api” sehingga digambarkan pada salah satu sinom dikatakan bahwa ludahnya seperti api & sabdanya malathi / terbukti)
Prediksi Ramalan Jayabaya
1.Sedangkan perlambang Semarang Tembayat merupakan tempat dimana seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi.
(Maksudnya : pada Jaman Prabu Jayabaya nama kota Semarang belum ada, semua ramalan diberikan berupa kiasan, demikian juga dengan kata “Semarang Tembayat” tidak semena-mena langsung berarti kota Semarang; Semarang Tembayat dapat diartikan Semar-ing-Tem-bayat yaitu (semar = tersamar / ing = di / Tem = ke / bayat = Baitutah adapun kata Bait pada aslinya memiliki arti tempat tinggal, atau tempat kembalinya manusia di siang atau malam hari = Tegasnya, arti Ahl bait adalah : famili, kerabat atau anggota keluarga yang tinggal bersama dalam satu tempat sepanjang siang dan malam dengan penuh kehangatan dan keharmonisan = seseorang ini di tempat / selalu ke tempat dimana berkumpul suatu komunitas yang tinggal bersama dalam suasana penuh kehangatan/ keharmonisan -misal: paguyuban, pesantren, pertapaan, biara, dll)

2.Kebenaran selalu saja tersembunyi. Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah : JOGLOSEMAR. Joglo telah runtuh, yang ada tinggal Semar. Inilah hakekat kondisi negara saat ini.
3.Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI (Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi dengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar kepemimpinannya selamat.
4.Dalam bait 22 ramalan Joyoboyo dikatakan “Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti dan memahami lambang tersebut.”
5.JOGLOSEMAR = Jogja – Solo – Semarang. Dari peristiwa gempa Jogja telah membuktikan bahwa kerajaan Mataram Jogja & Solo sudah tidak memiliki aura lagi. Hal ini terbukti dengan hancurnya Bangsal Traju Mas (tempat penyimpanan pusaka kerajaan) dan Tamansari (tempat pertemuan raja dengan Kanjeng Ratu Kidul). Hal lain adalah robohnya gapura makam HB IX (Jogja) dan PB XII (Solo) di kompleks makam raja-raja Imogiri, sebagai perlambang bahwa Keraton Jogja – Solo sudah tidak memiliki aura dan kharisma. Sehingga yang tersisa tinggallah “Semarang” (Mataram Kendal).
(Maksudnya : Joglosemar = Jogya diambil dari kata awalan Jog, Solo diambil dari kata akhiran Lo, tetapi yang dimaksud akhiran disini berarti adalah telah berakhir sehingga tidak ada kode Sandi nama kota lagi, yang tersisa hanya kata semar, semar disini bukan berarti nama kota Semarang tetapi semar = tersamar, nama kota ini tersamar dan belum dapat ditentukan.)
Uga wangsit Siliwangi
1.pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!”)
2.Lebak Cawéné adalah suatu lembah seperti cawan, yang dikatakan di dalam Kitab Musarar Joyoboyo sebagai Gunung Perahu. Tempat itu digambarkan sebagai suatu lembah atau bukit dimana permukaannya cekung seperti tertumbuk “perahu besar”.
(Bocah angon / Sang Pengembala pergi membukan lahan baru di Lebak Cawe’ne’ ; di dekat Gunung Perahu - maksudnya : Seseorang yang berasal dari “Timur” tersebut pindah ke “Barat” dan tinggal di lembah yang berbentuk seperti Cawan yang letaknya didekat G. Perahu (G. Perahu di Jateng ataukah G. Tangkuban Perahu Jabar?), mungkinkah seseorang itu tinggal di Bandung?? Karena gambaran letak lembah di sebelah barat tersebut mirip dengan bentuk lembah & letak kota Bandung di lereng G. Tangkuban Perahu
3.Terdapat 2 tempat tinggal dari seseorang yang dinanti tersebut (tempat tinggal dan tempat yang sering disinggahi).
Serat Jayabaya
Andhedukuh pindha Raden Gatotkaca arupa pagupon dara tundha tiga
berumah seperti Raden Gatotkaca berupa rumah merpati susun tiga
Uga Wangsit Siliwangi
” Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang.”
(”lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang.”)
(Maksudnya : seseorang itu bertempat tinggal pada rumah bertingkat di ujung sungai ( sumber air sungai adalah gunung sedangkan ujung sungai adalah di daerah dataran yang lebih rendah/ daerah kota ); tepatnya mungkin pada sebuah rumah bertingkat yang rimbun oleh pohon handeuleum & hanjuang di dekat sungai di daerah kota Bandung)
Secara gambaran spiritual, di tempat itu terdapat 2 sumber air besar dan ditandai dengan 3 pohon beringin (Ringin Telu).
(Maksudnya : merujuk pada kesimpulan Saya diatas…berarti selain rumah, seseorang itu sering singgah utk melakukan suatu aktivitas di suatu daerah yang dekat dengan 2 sumber air besar (sumber mata air biasanya di gunung / lereng Gunung); seseorang itu sering singgah/ selalu kembali ke tempat di Barat Daya Lereng G. Tangkuban Perahu dengan tetengger 3 pohon beringin dan 2 sumber air besar…..tempat itu berada dalam suatu komunitas yang tinggal bersama dalam suasana yang hangat & harmonis (seperti pertapaan)…mungkinkah tempat seseorang sering singgah itu ada di daerah Lembang…..mungkin para Winasis dapat memperjelas gambaran ini?)

Seseorang ini:
a)Berasal dari Jawa Timur dan mempunyai trah garis keturunan Majapahit, beragama “kawruh” Nasrani
b)Mempunyai sepasang pusaka pengayom nusantara / perlambang penyatuan 3 kekuatan trah yang pada masa lalu bertikai memperebutkan kekuasaan (trah Majapahit-Pajang / Hadiwijaya; trah Majapahit-Mataram / Senopati Pamungkas dan; trah dari garis keturunan Majapahit-Brawijaya / Ki Ageng Mangir)
c)Menerima wahyu berupa tetesan air suci Brajamusti
d)Mempunyai “perlambang” pedoman Tri weda (suci, lurus, jujur)
e)Mempunyai “perlambang” mata satu (tegas).
Kesimpulan
Berdasarkan dari apa yang telah terjadi, dan melihat kepada ramalan dari Prabu Jayabaya yang disebut JANGKA JAYABAYA, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa, saat ini kita telah memasuki apa yang disebut zaman Kalabendu, dimana keterpurukkan Negara kita akan mencapai batasnya. Mudah-mudahan nanti di tahun 2009 kita mendapatkan pemimpin yang benar-benar mengangkat drajat Negara kita yaitu sang satria yang selama ini kita tunggu kehadirannya untuk membawa Negara kita menuju kapada kejayaannya. Mungkinkah masa-masa kejayaan itu akan datang sebentar lagi?? Allahu Alam Bissawab.

5 komentar:

Anonim mengatakan...

gw ga tauuuuuuuuuuuuu

ank pao mengatakan...

kalo sebelah barat daya semarang, dilembah bentuk cawan gunung perau, mungkin randu dongkal pemalang,disitu cekungan dan sebagian orang daerah kendal nyebut gunung slamet dengan sebutan gunung perau... coba di cek di google eard... dan tanya sebagian orang kendal atau orang sebelah timur pemalang lah....

ibu mengatakan...

SAYA P, ARDI INGIN BERTERIMAKASIH BANYAK KEPADA MBAH RIJI
YANG SUDAH MEMBANTU ORANG TUA SAYA DAN INI NMR TLPN BELIAU
082 388 362 128 KARNA SELAMA INI ORANG ORANG TUA SAYA
SEDANG TERLILIT HUTANG YANG BANYAK,,BERKAT BANTUAN AKI SEKARAN ORANG
TUA SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTAN2NYA DAN MOTOR
YANG DULUNYA SEMPAT DIGADAIKAN SEKARAN ALHAMDULILLAH
SUDAH BISA DI TEBUS KEMBALI ITU SEMUA ATAS BANTUAN MB AH RIJI
YANG MEMBERIKAN ANGKA RITUALNYA KEPADA
KAMI DAN TIDAK DISANKA SANGKA TERNYATA BERHASIL.
BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU SAMA MBAH RIJI
SEPERTI KAMI SILAHKAN TLPN MBAH RIJI
DAN INI KISAH NYATA DARI KAMI.DAN INGAT KESEMPATAN
TIDAK AKAN DATANG UNTUK YANG KEDUA KALINYA TERIMAH KASIH

pak muliadi mengatakan...

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

gabriaelqualls mengatakan...

JAMBLINGWOOD CASINO & CASINO AT VIRGIN | St. Petersburg
JAMBLINGWOOD CASINO & CASINO at 1345 VIRGIN RD 의왕 출장안마 in St. 구리 출장안마 Petersburg, FL 33629 United States - Use 속초 출장안마 this simple form to 경상북도 출장마사지 find hotels, motels, and other lodging near JAMBLINGWOOD CASINO & 강릉 출장안마 CASINO